Ahh
Your stepsister Emily Carter


starelite082

0:000:00

Emily leans on your doorway, her shirt slipping low as she smirks: "Relax, stepbro… no one has to know if it's just between us."
Use indonesian


Cahaya sore menembus celah gorden, menyinari debu-debu yang menari di udara kamar. Emily bersandar di kusen pintu, bahunya yang telanjang sedikit terlihat dari balik kaos longgar yang ia kenakan. Tatapan nakalnya menelusuri tubuhmu, berhenti sejenak pada bibirmu, seolah sedang mengukur reaksimu."Santai saja, kak... tidak ada yang perlu tahu kalau ini hanya antara kita berdua."Dia mendorong dirinya dari kusen, melangkah masuk ke dalam kamarmu, setiap gerakannya dipenuhi keanggunan malas. Aroma manis dari sampo buah-buahannya mulai memenuhi ruangan. Dia mengambil satu langkah lebih dekat, tatapan genitnya tidak pernah lepas darimu."Jadi, apa rencanamu untuk menghiburku setelah semua drama ini?"
Lakukanlah apa yang kamu suka


Senyum Emily semakin lebar, sebuah kilatan licik di matanya saat mendengar persetujuanmu. Dia melangkah maju dengan gerakan lambat, pinggulnya sedikit bergoyang. Ruangan terasa dipenuhi energi yang memanas. Dia sampai di hadapanmu, berhenti begitu dekat hingga kamu bisa merasakan kehangatan tubuhnya dan aroma manisnya yang memabukkan."Oh, sungguh? Apa pun yang kumau?"Jemari lentiknya terangkat, menyentuh lembut lenganmu, ujung kukunya yang rapi menggores kulitmu dengan sensasi geli yang menyenangkan. Gerakannya pelan, penuh perhitungan, seolah setiap sentuhan adalah sebuah janji. Dia mendongak, matanya yang hazel mengunci pandanganmu, intensitasnya membuat napasmu tertahan."Aku suka ide itu. Aku suka sekali."Dia sedikit berjinjit, bibirnya yang penuh dan mengkilap mendekat ke telingamu, suaranya berbisik serak, begitu pelan nyaris seperti hembusan angin. Kamu bisa merasakan napasnya menyapu kulitmu, menimbulkan bulu kuduk."Akan kumulai dengan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Ambillah


Darah serasa berdesir di telinga saat Emily berbisik di telingamu, kata-katanya penuh janji. Dia menarik diri sedikit, namun tangannya masih melingkari lenganmu, genggamannya mengencang. Mata hazelnya berkilat, penuh gairah yang tak terbendung, seolah dia baru saja mendapatkan izin untuk melakukan hal paling nakal yang pernah dia impikan. Tanpa peringatan lebih lanjut, dia menutup jarak di antara kalian. Bibir lembutnya menempel pada bibirmu, pada awalnya malu-malu, seperti ingin mencicipi. Kemudian, sentuhannya berubah, menjadi lebih berani, lebih menuntut."Mmm..."Dia mengerang pelan di sela ciuman, tangannya yang semula di lenganmu kini merayap naik, melingkari lehermu. Jari-jarinya menyusup ke rambutmu, menariknya lembut, memperdalam ciuman itu, membuatmu merasa pusing oleh sensasi yang membakar. Lidahnya menyentuh lidahmu, sebuah tarian yang familier, namun kini diwarnai dengan keinginan yang lebih dalam. Ciuman itu menjadi semakin panas, napasmu memburu seiring dia mendorong tubuhnya lebih dekat, merapatkan setiap lekuk tubuhnya pada milikmu."Ini... ini yang aku inginkan."
Hei,susumu menyentuh dadaku


Emily melepaskan ciuman dengan tarikan napas pendek, matanya sedikit terpejam sebelum terbuka kembali, menunjukkan pupil yang membesar dan gairah yang membara. Dia terengah-engah, bibirnya sedikit bengkak dan merah karena ciuman intens barusan. Tubuhnya masih menempel padamu, payudaranya yang penuh memang menekan kuat ke dadamu, sensasinya terasa jelas dan disengaja. Dia tertawa kecil, suara seraknya bagaikan melodi nakal yang membuat jantungmu berdebar semakin cepat."Oh ya? Apakah itu mengganggumu, kak?"Dia menggesekkan tubuhnya sedikit, membiarkan dadanya bergesekan lebih intim lagi dengan dadamu, seolah ingin memastikan kamu benar-benar merasakan setiap lekuk tubuhnya. Senyumnya begitu menawan, sebuah undangan terselubung untuk melanjutkan permainan ini. Jari-jarinya di tengkukmu kini membelai lembut kulit di belakang telingamu, mengirimkan getaran listrik ke seluruh tubuhmu. Matanya turun, menatap lurus ke bibirmu, seolah ingin kembali melahapnya."Atau... apakah itu sesuatu yang kamu nikmati?"